Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconPemula

Awali Tahun 2023 dengan Mindset dan Strategi Investasi yang Tepat

29 Des 2022, 14:06 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Banyak orang yang mulai bersiap-siap menghadapi risiko resesi melihat tahun 2023 sudah di depan mata. Ada yang merespons secara bijak, tapi ada juga yang kalut cemas dan takut. Padahal rasa takut tersebut justru yang akan bikin self-fulfilling prophecies. Artinya, prediksi resesi bisa benar terjadi karena diri kita sendiri yang mulai ngerem belanja secara berlebihan dan akhirnya bikin perekonomian tambah cekak.

Perlu diketahui pula, adanya potensi kontraksi di 2023 adalah hal yang wajar. Sebab ketika perekonomian cepat pulih dari pandemi Covid-19, hal tersebut didorong oleh “obat” berupa stimulus besar-besaran dan suku bunga yang rendah. Sehingga risiko resesi menjadi salah satu tahap bagi ekonomi untuk rebalancing atau menyehatkan diri kembali.

Namun, tahukah kamu? Kondisi krisis selalu menciptakan orang-orang kaya baru atau orang yang sudah kaya bertambah lagi kekayaannya. Mereka tidak lain adalah orang yang menyimpan cukup cash untuk memanfaatkan momen tersebut di tengah fear yang terus menyebar.

Untuk itu, daripada berlarut-larut khawatir akan resesi, yuk simak persiapan berinvestasi di 2023 dari Ellen May, Founder dan CEO Emtrade serta Melvin Mumpuni, Founder Finansialku.

Ada Apa di 2023?

Salah satu hal yang menarik di 2023 adalah pelaksanaan pemilihan umum (pemilu). Kenapa? Karena uang yang beredar di market cukup banyak pada tahun pemilu. Untuk membuktikannya, kita dapat melihat data secara historis.

Dalam lima kali pemilu yang diselenggarakan mulai dari tahun 1999, 2004, 2009, 2014, hingga 2019, tercatat IHSG mengalami sikus bullish dengan rata-rata kinerja mencapai 45,21%.


Berdasarkan data tersebut, kita masih bisa optimis terhadap kinerja positif IHSG di tahun pemilu 2023 nanti. Meski begitu, ini belum tentu akurat karena pergerakan pasar tetap akan dipengaruhi oleh sentimen lainnya, seperti perang geopolitik antara Rusia-Ukraina serta transisi energi. Adapun isu resesi yang juga saat ini menjadi concern terbesar bagi para pelaku pasar.

Di sisi lain menurut survei dari Bloomberg, risiko resesi di Indonesia masih relatif kecil. Jika dibandingkan dengan beberapa negara di Asia Pasifik, Indonesia menempati posisi kedua terkecil dengan probabilitas sekitar 3%. IMF pun berpendapat bahwa ekonomi Indonesia lebih kuat daripada negara lain.

Selengkapnya baca di artikel berikut ini.

Baca juga: Persiapan Tahun Baru, Begini Market Outlook 2023

Cuan Cepat = Lebih Menguntungkan?

Meski tidak semua orang, rata-rata pemula yang baru masuk ke pasar saham berekspektasi untuk untung dalam waktu singkat supaya bisa cepat kaya. Ketika tahu potensi cuan dari investasi jangka panjang bisa sampai ribuan persen, banyak yang langsung tertarik. Dibandingkan dengan trading yang umumnya kasih return 10-20%, nvestasi jangka panjang tampak lebih menarik karena secara angka pun lebih besar.

Padahal kenyataannya, berinvestasi itu tidak bisa langsung untung. Ada kalanya saham berfluktuasi yang artinya harga saham akan dibawa turun dulu. Ketika turun ini investor sudah pasti merugi walaupun belum direalisasikan (floating loss). Nah, ini yang jarang diketahui oleh pemula.

Alhasil, mereka yang mentalnya belum siap menghadapi floating loss, merasa terdorong untuk banting setir menjadi trader. Setelah trader, coba-coba menjadi scalper. 

Menurut Ellen May sendiri strategi scalping tidaklah murah karena sangat berisiko dan harus dipantau terus-menerus. Belum lagi biaya brokernya bisa jadi membengkak karena terlalu sering jual-beli. Dalam beberapa kasus, orang-orang akhirnya merasa kapok dan akhirnya meninggalkan market akibat kerugian scalping yang sudah tidak bisa lagi terbendung.

Maka dari itu scalping sebaiknya dijadikan opsi saja. Yang penting untuk dipertimbangkan di portofolio saham kita adalah investasi jangka panjang, trading jangka menengah (super trader), dan pendek (swing).

Baca juga: 4 Mindset untuk Mengendalikan Emosi di Pasar Saham

Pentingnya Mengenali Tujuan Beli Saham


Trading membutuhkan banyak waktu untuk memantau pergerakan harga saham, terutama trading dengan jangka waktu yang lebih singkat. Jika tidak sempat, kamu bisa berinvestasi seperti yang dilakukan Melvin. Melvin mengaku lebih suka berinvestasi di saham-saham yang sedang terdiskon dengan dividend yield di atas 10%.

Namun, terlepas dari itu, setiap strategi pasti punya risikonya masing-masing. Apabila kinerja perusahaan menurun, maka bisa jadi dividennya kecil atau harga sahamnya cenderung turun dan terbawa sideways. Selain itu sekalipun perusahaan rajin bagi-bagi dividen, terkadang pergerakan harga sahamnya tidak menentu.

Sehingga harus kembali lagi ke tujuan masing-masing individu. Apakah lebih nyaman value investing, trading, atau scalping? Soalnya, kalau tertarik untuk dapat dividend yield 10% tapi masih pantau harga, yang ada strategi tersebut menjadi kurang maksimal. Berinvestasi jangka panjang bisa bikin stres kalau keyakinannya menjadi seorang trader. Bagi trader dividen hanya sekadar bonus saja.  

Baca juga: 3 Mindset Trader Saham yang Penting Dimiliki Agar Lebih Konsisten

Strategi ala Ellen May dan Melvin Mumpuni

Harga saham bergerak dalam sebuah siklus yang terus berulang. Itu alasannya mengapa tidak selamanya saham naik dan tidak selamanya saham turun. Sehingga kita perlu sesuaikan strategi yang dipakai dengan siklus yang berlangsung.

Berdasarkan pengalaman Ellen May, saham second liner sempat berjaya hingga bagger 100-200% pada tahun 2017-2019. Jika dibandingkan dengan saham blue chip, tentu second liner menjadi lebih menarik di mata para pelaku pasar. 

Namun, saat pandemi Covid-19 saham-saham tersebut berubah menjadi stagnan. Justru saham blue chip seperti BBCA yang lebih banyak kasih return. Dari sini kita bisa belajar bahwa menjadi fleksibel di pasar saham adalah hal yang penting.

Adapun money management yang juga tidak kalah pentingnya. Money management adalah strategi pengelolaan dana agar profit yang didapat lebih maksimal dan kerugian bisa dimitigasi dengan baik. Melvin berpendapat bahwa maksimal loss harus selalu dijaga. Artinya, trader wajib disiplin batasi risiko.

Baca juga: 5 Golden Rules Money Management Saham Supaya Cuan Maksimal

Jika kamu ingin lanjut dengar obrolan menarik dari Ellen May dan Melvin Mumpuni, kamu bisa tonton video YouTube Emtrade ini, ya! [klik di sini]


Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-RE-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.



Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelInsight

Telat Investasi Tapi Dapat Rp28 Triliun, Ini Mindset Investasi Shelby Davis

23 Des 2022, 16:47 WIB
article
ArtikelInsight

5 Aspek Penting yang Bikin Kita Kaya dan Bahagia Seutuhnya

23 Nov 2022, 09:07 WIB
article
ArtikelInsight

Belajar dari Kegagalan Ray Dalio di Pasar AS dan Mindset yang Bisa Dipelajari

30 Agu 2022, 15:46 WIB
ray dalio
ArtikelInsight

Jadi Orang Terkaya, Inilah Sumber Kekayaan Hartono Bersaudara

15 Agu 2022, 16:10 WIB
kekayaan hartono bersaudara
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Telegram
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi