Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

Kenaikan Suku Bunga BI Mulai Melandai, Begini Efeknya ke Saham

22 Des 2022, 15:00 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Sesuai dengan ekspektasi, hasil keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) pada 18 sd 19 Januari 2023 kembali menaikkan suku bunga BI-7 day Reverse Repo Rate sebesar 25 Bps menjadi 5,75%. Kenaikan ini  menjadi keenam kalinya sejak pertama kali naik pada Agustus lalu.

Kami menilai, langkah BI menaikkan suku bunga BI di Desember 2022 yang lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya merupakan langkah yang tepat karena mengikuti langkah bank sentral AS yang sudah menurunkan level kenaikan suku bunga-nya. 


Kenaikan suku bunga yang dilakukan bank sentral di seluruh dunia merupakan langkah mengantisipasi ketidakpastian global yang masih tinggi. BI menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global melambat di 2023 menjadi 2,3% dari 2,6%. Sementara itu,  Tekanan inflasi global terindikasi mulai berkurang meski tetap di level tinggi seiring masih tingginya harga energi & pangan, berlanjutnya gangguan rantai pasokan.  


BACA JUGA: Emiten Right Issue, Begini Cara Analisis untuk Tebus atau Tidaknya


Oleh karena itu, tujuan BI menaikkan suku bunga BI sebesar 250 bps sejak Agustus 2022 hingga menjadi 5,75% ini memadai untuk memastikan inflasi inti tetap berada dalam kisaran 3,0±1% pd semester I 2023, dan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) kembali ke dalam sasaran 3,0±1% pada semester II/2023


Prospek Pertumbuhan Ekonomi

Dari sisi domestik, BI menilai pertumbuhan ekonomi tetap membaik terlihat dari keyakinan konsumen yang optimis, dan kondisi manufaktur tetap ekspansif. Selain itu, ekspor tetap kuat yang mendorong current account tetap surplus dan posisi cadangan devisa masih mampu membiayai impor selama 5,9 bulan. 


Oleh karena itu, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional 2022 tetap tumbuh sekitar 5,3%, sedangkan 2023 akan ada perlambatan sejalan dengan ekonomi global, namun tetap bertumbuh positif sekitar 4,3%.  


Sedangkan, inflasi Indonesia di akhir 2022 akan tetap tumbuh tinggi mencapai 5,5% secara tahunan, Realisasi ini lebih rendah dari konsensus 6,5% walaupun masih diatas sasaran di level 3% +/- 1%. 


Disisi lain, ketahanan perbankan nasional masih tetap kuat dimana likuiditas longgar terlihat dari rasio alat likuid dibandingkan dana pihak ketiga (AL/DPK) per Desember 2022 masih tinggi mencapai 31,2%  dan struktur permodalan tetap terjaga terlihat dari rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) per November 2022 mencapai 25,45%. 


Kemudian, seiring kuatnya modal risiko kredit macet perbankan masih terkendali terlihat dari rasio kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) Bruto per November 2022 yang tercatat rendah di 2,65%. 


Dari sisi penyaluran kredit perbankan masih tetap ekspansif hingga November 2022 berhasil tumbuh 11,35% secara tahunan yang ditopang seluruh segmen.


Menurut pandangan kami, kredit macet yang terkendali dan penyaluran kredit yang ekspansif menunjukkan perbaikan kemampuan bayar dan akselerasi pemulihan ekonomi yang semakin positif. Selain itu, untuk akselerasi digitalisasi juga semakin tumbuh positif terlihat dari pertumbuhan nilai transaksi digital bank yang naik 13,48% secara tahunan. 


Bagaimana Dampak Kenaikan Suku Bunga BI? 

Dampak dari kenaikan suku bunga biasanya tidak akan secara langsung mempengaruhi industri namun cenderung memberikan risiko secara sistematik. Salah satu sektor yang paling terdampak dari kenaikan suku bunga BI adalah perbankan, namun tetap membutuhkan waktu untuk transmisi dampaknya. 


Berdasarkan data BI transmisi kenaikan suku bunga acuan mendorong kenaikan suku bunga perbankan. Hingga November 2022, suku bunga deposito 1 bulan naik 83 Bps menjadi 3,72% (vs. Juli 2022 : 2,98%), sedangkan suku bunga kredit naik 17 Bps menjadi 9,11% (vs. Juli 2022 : 8,94%). Kenaikan suku bunga bank ini dinilai BI masih terbatas seiring dengan likuiditas yang longgar, sehingga beberapa bank masih bisa memanfaatkan lagging effect untuk menjaga minat kredit.  . 


Selanjutnya, untuk dampak ke sektor lainnya dari kenaikan suku bunga akan cenderung negatif, ini karena memicu kenaikan suku bunga pinjaman yang potensi menaikkan tingkat utang emiten. Jika emiten punya utang besar tentunya akan merasa kesulitan karena beban semakin tinggi. Alhasil, profitabilitas bisa jadi tergerus. 


Menurut kami, ada beberapa sektor yang perlu diantisipasi karena potensi dirugikan lebih tinggi yaitu sektor teknologi karena fundamental yang belum establish dan likuiditas rendah, kemudian konstruksi karena tingkat utang yang tinggi, dan properti karena potensi kenaikan suku bunga kredit bisa menurunkan minat KPR. 


Walaupun begitu, kenaikan suku bunga kali ini lebih rendah dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Kami menilai, dampaknya tidak akan terlalu signifikan seperti bulan lalu karena BI juga memberikan kebijakan moneter yang akomodatif mendukung pertumbuhan ekonomi tetap positif. 


Mau belajar trading dan investasi saham secara praktis? yuk upgrade ke VIP member Emtrade. 


Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, referensi saham, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.


Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.


-TN-


emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.


Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelInsight

Update Data Makro: Inflasi AS & China dan IKK Indonesia, Apa Implikasinya?

13 Mar 2024, 15:55 WIB
article
ArtikelInsight

Keluar dari MSCI, Indeks FTSE Siap Tampung CUAN

19 Feb 2024, 14:10 WIB
article
ArtikelInsight

Kembangkan Bisnis FTTH, ISAT Akuisisi Pelanggan MNC Play

21 Nov 2023, 12:01 WIB
article
ArtikelInsight

Adu Kinerja Marketing Sales Emiten Properti di Kuartal III/2023, Siapa Juaranya?

24 Okt 2023, 17:14 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Telegram
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi