Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconInsight

Era Banjir Informasi Bisa Bikin Investor Salah Langkah? Nah Ini Tips Antisipasinya

9 Nov 2022, 16:52 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Umumnya, kehadiran internet membawa suatu keberkahan bagi para penggunanya. Namun, banjirnya informasi bisa jadi pedang bermata dua. Kok bisa?


Kemajuan jaman yang memberikan kemudahan bagi seluruh aspek kehidupan memberikan kualitas kehidupan masyarakat menjadi jauh lebih mudah dan praktis. Jika dahulu seseorang harus pergi ke mesin ATM untuk melakukan pembayaran transfer, kini dengan kehadiran Internet Banking segalanya bisa dilakukan dengan hanya tap-tap, dan selesai.


Bahkan, kemajuan teknologi membuat penetrasi informasi menjadi semakin luas.


Jika sebelumnya orang harus pergi ke toko buku untuk membeli dan membaca untuk mengetahui hal-hal yang menarik, kini kehadiran Google membuat model meraih informasi menjadi lebih murah dan praktis. 


Meskipun demikian, kehadiran Google tidak melulu memberikan manfaat yang berarti bagi para penggunanya, termasuk investor saham. 


BACA JUGA: Bedah Sektor Perbankan, Lebih Bagus Digital dan Konvensional


Menurut beberapa hasil riset, internet ternyata membuat banyak pelaku pasar menjadi investor yang lebih buruk. Bahasa lainnnya: investor tulalit. Penyebabnya: “Google Effect” yang diikuti olah adanya “Confidence without Competence”.


Kok bisa ?

Google Effect: Orang Merasa pintar secara “instan”

Singkatnya, google effect diangap melencengnya batas antara pengetahuan internal dan eksternal yang membuat orang merasa dan berpikir bahwa: mereka lebih pintar daripada yang sebenarnya.


Mengambil sudut pandang ke investor saham, internet pada akhirnya membuat investor berpikir bahwa mereka mengetahui banyak dari sebenarnya yang mereka ketahui. Internet telah melahirkan gejala “confidence without competence” atau kepercayaan diri yang berlebihan tanpa adanya kualitas yang kompeten karena pada dasarnya, investor hanya tinggal mencomot informasi tanpa memvalidasi kompetensi informasi tersebut.


Rasa percaya diri yang berlebihan inilah, yang merupakan efek dari google effect yang tanpa disertai kompetensi yang pada akhirnya membuat return portfolio menjadi kurang menarik.


Artinya, kehadiran google membuat kualitas pengetahuan kita tidak deeply alias hanya kulit-kulitnya saja. Namun tanpa kita sadari, kita sudah menganggap diri sendiri lebih pintar. Bahkan acap kali, google membuat kita tidak bisa mengolah informasi tersebut dan langsung menelan bulat-bulan tanpa melakukan validasi terhadap informasi tersebut.


Overwhelm information mendorong more fool action?


Sebagai contoh, media belakangan ini banyak menyoroti isu-isu terkait resesi yang diperkirakan akan terjadi pada tahun 2023 mendatang.


Beberapa indikator tersebut dinilai sudah muncul melalui data-data ekonomi beberapa negara yang secara nyata menunjukan adanya peluang resesi tersebut. Media yang mengemas indikator tersebut dengan menggunakan bahasa yang bombastis dan terkesan menakutnya secara tidak langsung membuat para pembacanya memiliki ketakutan yang berlebihan.


Hal ini membuat pelaku pasar, yang bisa dibilang mengakses internet cukup baik, memiliki mental yang tidak sehat sehingga pada akhirnya membuat pesimisme yang berlebihan tanpa mengecek kebenaran dari fakta-fakta sebenarnya yang memicu krisis.


Padahal, jika dilihat secara data-data menunjukan bahwa peluang terjadinya krisis sangat rendah sekali.


Atau kita menonton Youtube tentang bagusnya suatu saham A dan membuat kita tanpa sadar sudah melakukan riset dan memiliki informasi tersebut. Padahal, membaca laporan keuangan dan laporan tahunan perusahaan A aja belum pernah.


Atau yang lebih mengkhawatirkan, kita mendapatkan rekomendasi dari seseorang tanpa mengetahui alasan dibalik rekomendasi tersebut. Namun karena disampaikan oleh influencer dan dikemas dengan menarik, kita menjadi fanatik luar biasa dan membenarkan serta mengaminkan informasi tersebut tanpa mengecek lebih dalam secara pribadi.


Maka tidak heran, di bursa saham akan lebih banyak investor yang loss dibanding investor yang profit. Semua ini karena dampak buruk dari kualitas informasi yang berlebihan tanpa diteliti lebih dalam oleh para penerimanya.


Lantas, bagaimana cara menangani google effect?


Harus diakui bahwa mengatasi dampak dari google effect cukup sulit ditengah era pesatnya perkembangan internet seperti saat ini. Namun menghindari 100% juga bukanlah solusi yang tepat karena tanpa bisa ditolak, banyak informasi yang juga baik dari internet terutama google.


Namun, beberapa saran yang mungkin bijak agar kita terhindar dari google effect yang buruk. Cara termudah diantaranya adalah berusaha untuk mencari sumber primer yang lebih valid. Meski membutuhkan lebih banyak usaha dan waktu, aksi mencari alternatif informasi ini dapat mencegah investor dari kemungkinan dampak negatif dari informasi yang berlebihan dari internet.


Beberapa referensi sumber informasi primer antara lain:

  1. Laporan tahunan dan keuangan yang bisa dicek di website IDX atau website emiten

  2. Ikut Public Expose, di mana emiten diwajibkan mengadakan paparan publik minimal 1 kali dalam setahun

  3. Presentasi kinerja emiten, yang berisi rangkuman data laporan keuangan yang lebih mudah dipahami. Beberapa emiten menempatkan materi presentasi di websitenya.

  4. Jika mendapatkan kesempatan, kita juga bisa mengunjungi emiten secara langsung untuk studi lapangan 


Sebenarnya, ada cara lain lebih mudah, yakni dengan tanya saham di Emtrade, salah satu fitur Emtrade di mana penggunanya bisa langsung tanya ke coach berpengalaman. Jadi, jika kamu ingin menanyakan tentang suatu saham, bisa langsung download Emtrade dan upgrade jadi VIP member ya.

Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, referensi saham, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-WS-

emtrade.id/disclaimer










Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelPemula

Stop Lakukan 7 Hal Ini Saat Berinvestasi Saham di 2023

29 Des 2022, 16:38 WIB
article
ArtikelInsight

Waran Terstruktur BBCA Hingga MDKA Akan Dirilis, Begini Gambaran Pergerakan Harganya

8 Nov 2022, 16:03 WIB
article
ArtikelInsight

Cara Investor Dunia Tetap Cuan Saat Resesi 2008, Ada Warren Buffett!

3 Okt 2022, 15:26 WIB
article
ArtikelInsight

Resesi Global Menanti, Ini 3 Nasihat Warren Buffett untuk Investor

1 Okt 2022, 08:25 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Telegram
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi