Insight
Teknikal
Pemula
Fundamental
Psikologi Trading
Manajemen Risiko
Perencanaan Keuangan
Emtradepedia
premium-iconPemula

Begini Bedanya Inflasi Biasa dan Inflasi Inti, Mana yang Harus Dicermati?

10 Nov 2022, 16:18 WIB
Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
banner-image

Beberapa bulan lalu ketika The Fed dan bank sentral lainnya mulai menaikkan suku bunga, Bank Indonesia (BI) justru masih menahan suku bunga acuan hingga Juli 2022. Banyak yang mempertanyakan alasan di balik keputusan tersebut. Padahal inflasi terus menunjukkan kenaikan dari waktu ke waktu.

Faktanya, kala itu inflasi inti Indonesia dinilai masih terkendali. Jadi sebenarnya keputusan apakah BI akan menaikkan suku bunga atau tidak itu mengacu ke inflasi inti dan bukan inflasi biasa yang juga disebut inflasi IHK (Indeks Harga Konsumen).

Lalu, apa perbedaan antara keduanya? Mana yang harus dicermati oleh investor ritel? Berikut ulasannya.

Inflasi Biasa

Inflasi biasa atau inflasi IHK adalah kecenderungan naiknya harga barang dan jasa secara umum yang berlangsung terus menerus. Disebut inflasi IHK karena angka IHK digunakan sebagai indikator pengukur laju inflasi. IHK menghitung rata-rata perubahan harga dari suatu paket barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat dalam periode waktu tertentu.

Angka IHK yang berubah-ubah dari waktu ke waktu menunjukkan kenaikan (inflasi) dan penurunan (deflasi) dari barang dan jasa. Sehingga kerap dijadikan acuan stabilitas ekonomi dalam arti bahwa stabilnya kondisi ekonomi dapat dilihat dari laju inflasi. Di mana apabila inflasi terlampau tinggi, stabilitas ekonomi akan terganggu karena masyarakat tidak mampu lagi membelanjakan uang mereka.


Indikator perhitungannya terdiri dari 7 kelompok pengeluaran:

1. Bahan makanan

2. Makanan jadi, minuman, dan tembakau

3. Perumahan

4. Sandang

5. Kesehatan

6. Pendidikan dan olahraga

7. Transportasi dan komunikasi

Jadi ketika ada kenaikan harga yang meluas pada kelompok tersebut, maka akan langsung tercemin pada angka inflasi IHK. Naik turunnya harga bisa disebabkan oleh beberapa hal. Mulai dari kebijakan-kebijakan pemerintah seperti penurunan subsidi, kenaikan pajak, dan lain sebagainya. Kemudian gangguan atau kejadian alam seperti gagal panen, huru-hara yang berakibatkan terhambatnya pasokan barang, dan kejadian lainnya yang bersifat sementara.

Nah, inflasi yang disebabkan oleh beberapa hal tadi tidak dapat dibebankan kepada BI. Maka dari itu BI hanya akan berfokus pada inflasi inti untuk menentukan kebijakan moneter. Apa itu inflasi inti?

Baca juga: Efek Kenaikan Suku Bunga dan Inflasi ke Pasar Saham

Inflasi Inti

Inflasi inti adalah komponen inflasi yang di dalamnya cenderung menetap dan dipengaruhi faktor fundamental. Contohnya seperti interaksi permintaan-penawaran, lingkungan eksternal (nilai tukar, harga komoditas global, dan inflasi mtra dagang), dan ekspektasi inflasi dari pedagang dan konsumen. 

Komponen inflasi yang menetap (persisten) ini terkait dengan kondisi supply and demand di dalam perekonomian. Dengan begitu komponen tersebut dapat dipengaruhi oleh kebijakan moneter sebagai salah satu kebijakan (di samping fiskal) yang bisa mengendalikan sisi permintaan terhadap barang dan jasa. Beberapa ekonom berpendapat bahwa komponen persisten berperan penting dalam membentuk ekspektasi masyarakat karena laju inflasi dapat diantisipasi.

Inflasi inti juga merupakan kecenderungan perubahan harga-harga secara umum. Berdasarkan konsepsi ini, inflasi dapat dibedakan menjadi dua komponen. Pertama, inflasi inti yang terkait dengan ekspektasi inflasi dan kebijakan moneter.

Kedua, komponen perubahan harga relatif, terutama akibat gangguan-gangguan dari sisi supply yang mana dipandang sebagai inflasi sesaat. Alasannya karena gangguan atau perubahan harga relatif tidak menghasilkan kecenderungan kenaikan harga-harga secara umum yang sifatnya tetap, kecuali didorong oleh kebijakan moneter.

Supaya lebih paham, simak contoh ilustrasi di bawah ini.

Baca juga: Cara Investasi yang Bisa Mengalahkan Inflasi

Contoh Ilustrasi Inflasi

Sebagai contoh, ketika pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM maka terjadi perubahan harga relatif antara BBM dan barang-barang lainnya. Secara teoritis, perubahan hanya akan mendorong kenaikan tingkat harga-harga barang yang berkaitan dengan BBM.

Sedangkan barang-barang yang sama sekali tidak terkait dengan BBM seharusnya tidak mengalami kenaikan harga. Dengan begitu kenaikan tingkat harga yang terjadi akan bersifat sesaat dan tidak terjadi secara terus menerus.

Namun, masalahnya akan menjadi lain apabila pada saat yang sama kebijakan moneter diperlonggar dan likuiditas bertambah di dalam perekonomian sehingga kenaikan harga BBM justru memicu kenaikan harga-harga secara umum dan mengubah ekspektasi inflasi masyarakat. Dalam kasus seperti ini ini maka gangguan harga relatif akan dianggap sebagai bagian dari inflasi inti.

Baca juga: Apakah yang Dimaksud dengan Inflasi dan Mengapa Perlu Diperhatikan?

Gimana? Sekarang sudah paham kan dengan perbedaan inflasi biasa dan inflasi inti? Supaya pengambilan keputusan di market makin mantap, baca analisis saham dan dapatkan trading signal dari Emtrade.

Upgrade jadi VIP member untuk menikmati semua fitur Emtrade. Dengan menjadi VIP member, kamu bisa menikmati trading signal, referensi saham, konten edukasi, analisis, research report, tanya-jawab saham intensif, morning dan day briefing, dan seminar rutin setiap akhir pekan.

Klik di sini untuk upgrade menjadi VIP member Emtrade.

-RE-

emtrade.id/disclaimer

Setiap saham yang dibahas menjadi case study, edukasi, dan bukan sebagai perintah beli dan jual. Trading dan investasi saham mengandung risiko yang menjadi tanggung jawab pribadi. Emtrade tidak bertanggung jawab atas setiap risiko yang mungkin muncul.





Bagikan
whatsapp
Facebook
Twitter
linkedin
telegram
Artikel Lainnya
ArtikelInsight

Inflasi Turun Jadi 2,57% di Januari 2024, Simak Dampaknya ke Saham

1 Feb 2024, 15:05 WIB
article
ArtikelInsight

Dampak Suku Bunga BI yang Ditahan Saat The Fed Masih Berpotensi Hawkish

22 Sep 2023, 16:01 WIB
article
ArtikelInsight

Dampak Ketentuan Suku Bunga LPR China ke Saham Indonesia

23 Agu 2023, 11:24 WIB
article
ArtikelInsight

Keruntuhan SVB: Apa yang Sebenarnya Terjadi dan Bagaimana Dampaknya ke Indonesia?

17 Mar 2023, 14:39 WIB
article
Video Populer
logo-emtrade

Aplikasi edukasi saham, bisa tanya jawab, dapat referensi saham, praktis, membuatmu bisa langsung praktek

Instagram
Youtube
Tiktok
Twitter
Facebook
Spotify
Telegram
Download Aplikasi
appstoreplaystore

Terdaftar dan Diawasi

logo-ojkIzin Usaha Penasihat Investasi : S-34/D.04/2022
kominfoTanda Daftar Penyelenggara Sistem Elektronik Nomor :002568.01/DJAI.PSE/04/2022

© 2024, PT Emtrade Teknologi Finansial

Syarat & KetentutanKebijakan Privasi